Wednesday, 18 January 2017

Silampukau - Balada Harian


 

Sejak berlangganan Spotify, ada beberapa artis yang lagu-lagunya baru saya dengar dan begitu nempel di telinga, salah satunya adalah Silampukau. Duo musisi akustik ini mengusung genre folk yang catchy dan nyaman didengar kala sendiri, dengan lirik yang unik dan kerap mengangkat tema kota asal mereka, Surabaya.


Beberapa lagu yang saya suka di album mereka Dosa, Kota, & Kenangan antara lain Puan Kelana, Doa 1, dan Bola Raya. Akan tetapi, lagu terfavorit saya adalah Balada Harian, mengingat lagu ini yang pertama kali saya dengar dan seketika membuat saya terkesima. Saya suka liriknya yang agak "berat" sekaligus "depressing".

Lagu ini bisa didengarkan di bagian awal video konser mereka berikut:



Dan berikut liriknya yang saya kopas dari situs resmi mereka:

Tik-tok jam. Dering alarm.
Pagi tak terhindarkan.
Tik-tok jam. Dering alarm.
Impian pudar perlahan. Diam-diam,
pagi tak terhindarkan.


Tik-tok jam. Kubayangkan,
hari begitu panjang.
Tik-tok jam. Lalu-lalang,
derum dan bising jalanan.
Kuberbaring, membayangkan
hari pasti ‘kan panjang.


Di luar pagar sana, kawanku,
kehidupan memanggilmu.
Tapi tahun kian kelabu.
Makna gugur satu-satu,
dari pengetahuanku,
dari seluruh pandanganku,
pendengaranku,
penilaianku.


Mentari tinggal terik bara tanpa janji.
Kota tumbuh,
kian asing, kian tak peduli;
dan kita tersisih di dunia yang ngeri,
dan tak terpahami ini.


Tik-tok jam. Dering alarm.
Pagi tak terhindarkan.
Tik-tok jam. Kini ku paham,
waktu sekedar hitungan yang melingkar,
kekal di kehampaan.


O, bocah riang di jiwaku,
di manakah dirimu?
Tahun-tahun masih menunggu,
kembalilah kepadaku.




Credits: 
1. Silampukau logo taken from Silampukau Official Website.

No comments:

Post a Comment