PC vs Laptop


Personal Computer (PC) punya sejarah panjang dalam perkembangan teknologi informasi, walau saat ini keberadaannya semakin tergeser oleh laptop dan gadget portable lainnya. Kali ini saya ingin sedikit mengenang PC yang pernah saya miliki.

Pertama kali saya punya PC itu tahun 2002, si Putih dengan prosesor Intel Pentium 4, memori 128MB dan harddisk 20GB. Sudah lumayan canggih lah di zamannya, walau nggak hebat-hebat amat. Si Putih ini banyak membantu masa-masa kuliah, kerja hingga menjelang kuliah lagi ke Jogja tahun 2010.

PC perdana yang penuh kenangan


Seiring berjalannya waktu, banyak upgrade diberikan agar si Putih terus dapat mengikuti perkembangan era digital. RAM, harddisk, dan bahkan motherboard diganti dengan yang baru. Sayangnya, semakin lama komponen di dalamnya yang ketinggalan zaman semakin tak kompatibel dan sulit dicari suku cadang barunya.Akhirnya, tahun 2012 si putih pensiun dan digantikan oleh PC hitam yang lebih bertenaga.

Si hitam ini dilengkapi prosesor (APU) AMD A4 dengan memori 4GB dan harddisk 500GB. Kualitas grafiknya cukup bagus terutama karena fokus saya saat itu adalah menyelesaikan tesis S-2 terkait program multimedia. Selain itu PC ini juga cukup kuat menjajal game-game kelas menengah. Setelah saya tambahkan kartu grafis Radeon HD, performa gaming-nya semakin lancar jaya. Game-game seperti Tomb Raider dan Dragon Age sanggup dimainkan hingga tamat.

Masalah dengan PC adalah ia hanya bisa dipakai di satu tempat, docking. Laptop, di sisi lain, bisa mengatasi kesulitan ini karena bisa dibawa ke manapun. Mobilitas laptop ini semakin lama juga semakin ditunjang dengan perkembangan teknologi sehingga kinerja laptop bisa lebih cepat, bertenaga, namun tetap ringan ditenteng.

Hanya saja, untuk urusan menulis, saya tetap lebih suka mengetik di keyboard PC. Kecepatan dan ketepatan menulis di keyboard "betulan" ini terasa betul lebih baik dibanding di laptop, apalagi di layar sentuh gadget. Inspirasi menulis juga, sepertinya lebih mudah didapat ketika duduk di atas meja, dengan formasi seperti sekarang: keyboard dan mouse di depan monitor, sementara si hitam terus berdengung mengeluarkan bunyi dari beberapa kipas yang berjalan serentak. Suasana ini yang sulit didapat ketika bekerja dari laptop.

Mungkin karena nostalgia, atau ada perasaan susah move on karena sejak kuliah dan kerja di radio saya bekerja dengan cara seperti ini, tetapi saya harapkan, kalau terus bekerja di PC, saya bisa lebih produktif menulis dan menghasilkan. Semoga.


Credits: 
1. PC lama saya, foto diambil sekitar awal 2014.

Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman Mengikuti Tes EPT di ULM

Memperbaiki Thumbnails Foto yang Rusak di Laptop AMD Windows 8.1