Pengalaman Mengikuti Tes EPT di ULM



Kemarin siang saya mengikuti ujian English Proficiency Test (EPT), semacam tes untuk memprediksi skor TOEFL. Tidak ada kepentingan apa-apa sebenarnya, hanya saja, beberapa bulan lalu ada Mami diajak temannya yang mau ikut tes ini sebagai syarat melamar kerja. Nah, Mami kemudian mendaftarkan saya ikut tes di gelombang berikutnya. Sekian lama tidak dipanggil, akhirnya Rabu lalu pemberitahuan lewat SMS datang. Saya disuruh berhadir Jumat siang tadi jam 1.30.



Tesnya sendiri diselenggarakan di kampus saya semasa S-1, Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, yang sekarang mulai populer disingkat jadi ULM (dulunya UNLAM). Rasanya sudah lama sekali saya tidak menginjakkan kaki di kampus ini. Terakhir saya ke sana tahun 2010 dalam rangka legalisir ijazah sebagai syarat pendaftaran S-2 di UNY.

Rentang tujuh tahun dan terlihat beberapa perubahan di kampus ini. Yang paling kentara adalah gerbang masuk yang megah, gedung Pascasarjana yang kelihatannya baru rampung, dan ruang terbuka hijau di dekat kampus Fakultas Ekonomi. Parkiran motor dan mobil juga terlihat makin luas, bahkan di area-area yang ditulisi "Bukan Tempat Parkir Roda 2" juga dipenuhi motor.

Tesnya sendiri dimulai jam 2 siang. Waktu yang tepat untuk tidur siang, sebenarnya. Formatnya sama seperti tes TOEFL berbasis kertas pada umumnya. Ada tiga bagian yang diujikan: Listening, Structure, dan Reading. Di masing-masing bagian kita harus menjawab 50 soal pilihan ganda (kecuali Structure, 40 soal). 

Bagian pertama, Listening, saya sedikit terganggu dengan kualitas rekaman yang agak tinggi noise-nya, mungkin pengaruh usia pita kasetnya yang tentu sudah berumur. It's 2017 anyway... Meski demikian, dialog yang diputar masih cukup jelas terdengar, jadi tidak terlalu masalah dalam menjawab. Yang agak ribet mungkin bagian terakhirnya, ceramah panjang, di mana kita perlu mengingat detail-detail omongan orang.

Bagian kedua, Structure, tidak terlalu jadi masalah, berhubung soal-soal serupa sudah lumayan sering saya garap. Waktu sisa 10 menit, dan saya bisa meneruskan ke bagian ketiga, Reading.

Di bagian ini, beberapa teks bacaan yang diberikan cukup menarik. Ada sejarah mengenai revolusi Amerika, khususnya tentang karya-karya Thomas Paine dan Ben Franklin, berdirinya FedEx, dan The Hope Diamond. Malamnya seusai tes, saya sedikit gugling mengenai topik-topik tersebut. Jika sempat, rasanya saya jadi kepingin menerjemahkan juga tulisan Thomas Paine yang berjudul "Common Sense".

Ada juga tulisan soal narcolepsy, suatu sindrom yang ditandai oleh kacaunya pola tidur. Sehabis membaca teks itu kok ya saya merasa ngantuk sekali. Untunglah waktu mengerjakan soal akhirnya habis, dan saya pun bisa keluar ruangan.

Pulangnya saya mencari makan dulu sebelum balik ke Banjarbaru. Dulu waktu masih mahasiswa, saya sering makan di sekitaran jalan Cendana. Menu paling populer kala itu adalah ayam tepung a la KFC, hanya porsi tepungnya lebih tinggi ketimbang ayamnya.

Sayangnya, ketika saya memasuki jalan Cendana, ternyata sudah tidak ada lagi warung-warung yang biasa menjual menu ayam tepung itu. Rupanya sejak 2010, sesaat setelah saya berangkat kuliah di Jogja, warung-warung di sana ditertibkan. Jadilah saya berpindah ke jalan Flamboyan, kebetulan masih ada warung makan yang buka.

Sayangnya, ayam yang disajikan tidak seperti harapan dan kenangan saya akan ayam tepung Cendana. Sekarang porsi ayamnya jadi lebih besar, tepungnya juga cuma sedikit. Rasanya juga beda lah dengan yang terekam di memori saya dulu. Jadi penasaran juga, masih adakah warung yang menjual ayam tepung dengan resep seperti di Cendana dulu.

Katanya sih, sekarang ada Kawasan Wisata Kuliner di dekat gedung Sultan Suriansyah (gedung bundar). Saya belum mencoba ke sana, tapi semoga kalau ke sana masih ada yang jualan ayam tepung penuh kenangan itu...


Credits: 
1. Photo “Test” courtesy of Pazham (FreeDigitalPhotos.net)

Comments

Popular posts from this blog

Memperbaiki Thumbnails Foto yang Rusak di Laptop AMD Windows 8.1